Willy Widinia – (Pegiat Lingkungan UNIDA)
Keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability) bukan lagi sekadar isu global, melainkan kebutuhan nyata yang harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika pola konsumsi dan produksi terus dilakukan tanpa memperhatikan dampaknya, generasi mendatang akan menghadapi berbagai krisis lingkungan yang lebih serius (Hansen et al., 2013). mengingatkan bahwa “If we drive many species to extinction we will leave a more desolate, monotonous planet for our children, grandchildren, and more generations than we can imagine”
Konsep sustainability menekankan bahwa pembangunan harus mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan laporan Brundtland Report yang menyatakan bahwa “Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”(World Commission on Environment and Development, 1987). Definisi tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Penerapan gaya hidup ramah lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi dan air, serta mendukung produk yang berkelanjutan. Selain itu, dunia usaha perlu menerapkan praktik bisnis yang memperhatikan aspek lingkungan, sementara pemerintah harus memperkuat regulasi dan edukasi kepada masyarakat. Pada akhirnya, keberlanjutan lingkungan merupakan investasi jangka panjang yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan keseimbangan ekosistem. Dengan kesadaran serta kolaborasi dari berbagai pihak, pembangunan berkelanjutan dapat terwujud dan menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang.
