Makan Bergizi Gratis: Kebijakan Publik atau Politik Simbolik?

YP2N_ Bogor, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir bagaikan secercah harapan di tengah persoalan gizi dan stunting. Namun di balik kemasan menarik dan janji “gratis” yang menggoda, muncul pertanyaan mendasar: apakah program ini benar-benar kebijakan publik yang matang, atau sekadar alat politik membangun citra?

Sejak kampanye, MBG telah menjadi kuda perang politik yang ampuh. Direktur Eksekutif Indonesian Social Survey mengungkapkan bahwa di akar rumput, program ini sudah disebut ‘MBG Prabowo’, bukan ‘MBG Badan Gizi Nasional’. Asosiasi personal yang kuat ini menunjukkan MBG lebih dari sekadar kebijakan ia menjelma menjadi monumen politik yang melekat pada figur pemimpin.

Dokumen Pribadi, Keterangan: Siswa menyantap MBG

MBG dirancang sangat kasat mata. Badan Gizi Nasional menyebutnya sebagai “wajah negara di sekolah”. Setiap hari, piring makan di hadapan anak-anak menciptakan persepsi negara hadir dan peduli. Inilah keunggulan program simbolik: mudah dilihat, mudah dirasakan, dan mudah diingat berbeda dengan kebijakan struktural yang dampaknya abstrak dan butuh waktu lama.

Namun, dampak substantif terhadap stunting masih dipertanyakan. Sebuah studi menemukan bahwa dampak langsung MBG terhadap stunting dan anemia belum terverifikasi karena keterbatasan penargetan. Program ini mungkin lebih berhasil sebagai simbol daripada intervensi gizi yang efektif.

Yang memprihatinkan, fokus berlebihan pada aspek simbolik mengabaikan tata kelola. Kasus dugaan korupsi yang menyeret petinggi BGN dan kasus keracunan berulang menunjukkan lemahnya pengawasan. Wacana pencabutan siswa SMA dari penerima manfaat muncul sebagai reaksi atas krisis, bukan perencanaan matang.

MBG lebih mudah dipilih karena ia terlihat dan dirasakan, bukan karena efektif. Agar tidak sekadar proyek citra, pemerintah harus membangun narasi berbasis data, melakukan evaluasi transparan, dan memperbaiki tata kelola secara fundamental. Intervensi perlu difokuskan pada kelompok paling membutuhkan, terutama seribu hari pertama kehidupan. Negara hadir bukan melalui simbol, tetapi melalui kebijakan yang membawa perubahan nyata bagi anak-anak bangsa.<Siti Nurhaliza>