Oleh: Alya Martha (Pegiat Lingkungan dan Anggota Mapala Unida)
Aneh rasanya. Di kehidupan sehari-hari kita selalu terburu-buru mengejar sesuatu. Nilai, pekerjaan, uang, pengakuan, atau sekadar ingin terlihat “baik-baik saja”. Kita terus berjalan tanpa sadar bertanya, sebenarnya sedang menuju ke mana?
Perasaan itu mengingatkan saya pada pendakian Gunung Ciremai. Di awal perjalanan, semua orang bersemangat. Langkah masih ringan, tawa masih terdengar di sepanjang jalur. Namun, semakin tinggi pendakian, napas mulai memburu, kaki terasa berat, dan pikiran mulai dipenuhi satu tujuan: **segera sampai di puncak**.
Tanpa disadari, kita sering melakukan hal yang sama dalam kehidupan. Terlalu fokus pada tujuan hingga lupa menikmati proses. Terlalu sibuk mengejar garis akhir sampai lupa melihat indahnya perjalanan yang sedang dilalui.
Padahal, justru di jalur pendakian itulah pelajaran hidup banyak ditemukan. Saat tubuh mulai lelah, kita belajar tentang kesabaran. Saat teman menawarkan bantuan, kita belajar bahwa manusia tidak harus kuat sendirian. Saat berhenti sejenak menikmati matahari terbit atau kabut yang menyelimuti hutan, kita diingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang berlari, tetapi juga tentang memberi ruang untuk bersyukur.
Ironisnya, setelah turun dari gunung, kita kembali pada ritme yang sama. Bangun pagi, mengejar waktu, menatap layar sepanjang hari, dan terus merasa harus produktif. Seolah-olah hidup adalah perlombaan yang tidak boleh kehilangan langkah. Kita lupa bahwa seperti mendaki Ciremai, hidup juga membutuhkan jeda. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengambil napas agar bisa melanjutkan perjalanan.
Mungkin yang kita butuhkan bukan selalu puncak yang lebih tinggi, melainkan kemampuan untuk menikmati setiap langkah. Karena pada akhirnya, Gunung Ciremai mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang berdiri di titik tertinggi, tetapi tentang bagaimana kita bertahan, belajar, dan menghargai setiap proses yang mengantarkan kita ke sana.
Sebab hidup, sama seperti mendaki, bukan hanya soal mencapai tujuan. Tetapi tentang siapa diri kita setelah berhasil melewati setiap tanjakan. (Alya)
