Oleh
Muliana H Sihotang (Pegiat literasi)
Aneh rasanya. Kita tinggal di kota yang tidak pernah tidur, tapi justru selalu merasa kelelahan. Bukan kelelahan karena sudah melakukan hal-hal bermakna, tapi kelelahan yang datang bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Setiap hari siklusnya sama. Bangun pagi, buka HP, langsung disambut notifikasi yang tidak ada habisnya. Belum sempat sarapan sudah harus membalas pesan. Belum sampai kampus, kepala sudah penuh memikirkan ini dan itu. Dan ketika malam tiba, bukannya istirahat, malah scroll media sosial sampai mata terasa panas dan jam sudah menunjukkan angka yang tidak masuk akal.
Kita menyebutnya “kesibukan.” Padahal kalau jujur, banyak dari kesibukan itu tidak benar-benar kita pilih. Kita sibuk karena merasa harus terlihat produktif. Karena diam sebentar pun terasa bersalah. Karena entah sejak kapan, istirahat mulai dianggap kemewahan, bukan kebutuhan dasar manusia.
Yang paling lucu, kita semua tahu ini tidak sehat. Kita saling kirim meme soal burnout, saling komentar “healing dulu yuk” di postingan teman, tapi keesokan harinya kembali ke ritme yang persis sama tanpa ada yang berubah.
Mungkin yang kita butuhkan bukan liburan seminggu ke luar pulau. Mungkin cukup belajar berhenti sebentar tanpa merasa bersalah. Duduk tanpa agenda. Makan tanpa menatap layar. Ngobrol dengan teman tanpa kepikiran deadline yang menumpuk.
Hidup di kota memang tidak mudah. Tapi jangan sampai kita terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bagaimana caranya benar-benar hidup. (Maul)
